Senin, 03 Desember 2018

Petuah Sang Semar Kepada Anak - Anaknya

punakawan

Gareng : "Romo pernah dicaci-maki seseorang?"

Semar : "Pernah....!"

Petruk : "Pernahkah dimusuhi seseorang, Mo!

Semar : "Pernah....!"

Bagong : "..apa pernah dibenci seseorang, Mo?"

Semar : "Pernah....!"

Gareng : "Sampeyan juga pernah dihujat seseorang, Mo..?"

Semar : "Pernah....!"

Petruk : "Apakah semua itu dilakukan secara terang²an, Mo..?"

Semar : "Ada yang dilakukan secara terang²an, ada juga yang hanya dilakukan secara diam² dari belakang.."

Bagong : "Lantas apa yang Romo perbuat terhadap orang² itu..?"

Semar : "Thole, nggèr anak²ku cah bagus, podo dirungokno yo..! Aku tidak balik mencaci-maki dia, aku pun tidak merasa harus memusuhinya, tidak pula akan membencinya dan aku juga tidak berpikir akan membalas hujatannya.."

Gareng (penasaran) : "Kenapa bisa demikian, Mo..?"

Semar (sambil membetulkan duduknya) :  "Itu karena pikiran serta hatiku tidak terfokus pada siapa yang mencaci-maki, siapa yang memusuhi, siapa yang membenci dan siapa yang menghujat.

Pikiran dan hatiku hanya terfokus pada siapa yang menggerakkan lidah mereka sehingga mencaci-maki aku, siapa yang menggerakkan jiwanya sehingga memusuhi aku, siapa yang menggerakkan hatinya sehingga membenci aku dan siapa yang menggerakkan pikirannya sehingga membuat mulutnya menghujat aku..."

Petruk : "Dia itu siapa, Mo..?"

Semar : "Dialah GUSTI ALLAH yg  Maha Pencipta. DIA-lah  Maha yang berkuasa atas segala sesuatu yang sudah, belum, sedang dan yang akan terjadi.

Ya hanya DIA-lah satu²nya yang memberi kemampuan dan kekuatan pada orang² itu sehingga lidahnya bisa mencaci maki, jiwanya bisa memusuhi, pikirannya bisa membenci dan bibirnya bisa menghujat diri ini. Tanpa-NYA tentu mustahil bisa terjadi. Sehingga aku beranggapan, sebenarnya cacian, kebencian, permusuhan​ dan hujatan itu sengaja dihadirkan GUSTI ALLAH SWT agar jiwaku menjadi kuat melewati rintangan dan hatiku menghebat tatkala menghadapi ujian.

0 komentar:

Posting Komentar